Depok - Dua mahasiswa Universitas Islam Depok (UID) turut ambil bagian dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia Tahun 2026 yang dipusatkan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Bersama ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi keagamaan di Indonesia, mereka menjalani pengabdian di tengah masyarakat sekaligus belajar langsung dari kearifan lokal masyarakat adat Baduy. Kedua mahasiswa tersebut adalah Ahmad Maksum Robani dan Muhamad Suhaemi Mubarok dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI).

KKN Nusantara VI tahun 2026 mengusung tema Merawat Ekoteologi, Menjaga Tradisi: Meneguhkan Iman, Melestarikan Alam. Program berskala nasional ini diselenggarakan oleh UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia. Sebanyak 240 mahasiswa dari 42 perguruan tinggi keagamaan terlibat dalam program tersebut dan ditempatkan di sejumlah wilayah Kabupaten Lebak, khususnya Kecamatan Leuwidamar dan Cirinten.

Ketua LPPM Universitas Islam Depok menegaskan bahwa keikutsertaan dua mahasiswa Universitas Islam Depok menjadi bagian dari kontribusi kampus dalam memperkuat kolaborasi nasional perguruan tinggi keagamaan melalui pengabdian kepada masyarakat.

"Selama berada di lokasi, para mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat, menggali potensi lokal, serta mempelajari nilai-nilai kearifan masyarakat dalam menjaga hubungan antara manusia, agama, dan alam," imbuhnya.

Setelah menjalani pengabdian selama kurang lebih 40 hari, rangkaian KKN Nusantara VI memasuki tahap ekspos hasil. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para peserta untuk mempresentasikan berbagai program dan inovasi yang telah dilakukan bersama masyarakat. Ekspos tersebut menunjukkan bahwa KKN tidak berhenti pada aktivitas seremonial, tetapi diarahkan untuk menghasilkan program yang memiliki manfaat dan keberlanjutan. Berbagai potensi desa diangkat melalui pendekatan ekoteologi, inovasi berkelanjutan, pemanfaatan sumber daya lokal, hingga pengembangan produk masyarakat.

Kawasan Baduy sendiri menjadi ruang belajar yang unik bagi mahasiswa. Kehidupan masyarakat adat yang memiliki tradisi kuat dalam menjaga alam memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya membangun kehidupan yang harmonis antara manusia dan lingkungan.

Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat LPPM Universitas Islam Depok menuturkan bahwa tema ekoteologi yang diusung dalam KKN Nusantara VI menjadi semakin relevan karena mahasiswa tidak hanya belajar tentang pelestarian lingkungan dari perspektif akademik, tetapi juga menyaksikan praktik kearifan lokal yang telah diwariskan dan dipertahankan masyarakat secara turun-temurun.

Hal tersebut menjadi penting dalam konteks pengabdian di kawasan Baduy. Mahasiswa dituntut untuk mampu menggabungkan pengetahuan akademik dengan kearifan lokal, sehingga pengabdian tidak bersifat satu arah, tetapi menjadi proses belajar bersama antara mahasiswa dan masyarakat.

"Bagi dua mahasiswa Universitas Islam Depok, pengalaman mengikuti KKN Nusantara VI menjadi kesempatan berharga untuk membawa nama kampus ke ruang pengabdian nasional. Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga membuka ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan praktik pengabdian yang dapat dikembangkan di daerah masing-masing," pungkasnya.

Universitas Islam Depok melalui keikutsertaan dua delegasi mahasiswa dalam KKN Nusantara VI turut memperkuat komitmen untuk menghadirkan mahasiswa yang tidak hanya memiliki kapasitas akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan beradaptasi, serta kepekaan terhadap lingkungan dan keberagaman masyarakat.

Dari tanah Baduy, dua delegasi mahasiswa tersebut membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman KKN. Mereka membawa pelajaran tentang kesederhanaan, harmoni dengan alam, penghormatan terhadap tradisi, serta pentingnya hadir dan tumbuh bersama masyarakat. KKN Nusantara VI pun menjadi bukti bahwa pengabdian mahasiswa dapat menjadi jembatan yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan kearifan lokal untuk bersama-sama membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan.