Banyak orang mengira bahwa penyebab dirinya ngambek, kesal, sakit hati, atau kecewa adalah karena perilaku orang lain. Padahal jika direnungkan lebih dalam, sumber masalah yang bukanlah orang lain, melainkan kondisi hati kita sendiri. Orang yang sama-sama menerima perlakuan yang tidak menyenangkan bisa menghasilkan reaksi yang berbeda. Ada yang tetap tenang, ada yang mudah tersinggung. Ada yang langsung memaafkan, ada yang menyimpan kemarahan berhari-hari bahkan bertahun-tahun. Jika penyebabnya semata-mata orang lain, maka semua orang akan bereaksi sama. Namun kenyataannya tidak demikian. Ini menunjukkan bahwa masalah utamanya berada pada kondisi batin masing-masing.
Ketika seseorang ngambek atau kesal, yang pertama kali merasakan penderitaan adalah dirinya sendiri. Hatinya menjadi tidak nyaman, pikirannya dipenuhi oleh orang yang membuatnya marah, tidurnya tidak nyenyak, wajahnya muram, dan ruhnya kehilangan ketenangan. Orang lain mungkin tidak merasakan apa-apa, tetapi dirinya sendiri yang terus memikul beban tersebut.
Dalam kajian tasawuf dikenal bahwa hati manusia hanya memiliki satu pusat kecintaan dan ketergantungan. Hati tidak mungkin secara bersamaan dipenuhi Allah dan dipenuhi makhluk dalam kadar yang sama. Ketika Allah hadir di hati, maka lahirlah ketenangan. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi oleh makhluk, maka lahirlah kegelisahan.
Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra'd: 28). Ayat ini memberikan rumusan yang sangat sederhana:
- Jika ada Allah di hati, maka hati menjadi tenang.
- Jika ada makhluk di hati, maka hati menjadi gelisah.
Ketika seseorang mudah ngambek, mudah tersinggung, mudah kecewa, atau mudah sakit hati, hal itu menjadi tanda bahwa hatinya masih banyak dipenuhi urusan makhluk. Ia terlalu sibuk memikirkan ucapan manusia, penilaian manusia, penghargaan manusia, dan perlakuan manusia. Akibatnya, suasana hatinya berubah-ubah mengikuti keadaan makhluk yang memang tidak pernah tetap. Padahal Allah adalah Dzat Yang Maha Tetap, sedangkan makhluk selalu berubah. Karena itu, setiap kali muncul rasa kesal, marah, atau ngambek, jangan terburu-buru menyalahkan orang lain. Bisa jadi Allah sedang menunjukkan bahwa masih ada masalah dalam diri kita yang perlu dibersihkan.
- Mungkin masih ada ego yang terlalu besar.
- Mungkin masih ada rasa ingin dihargai.
- Mungkin masih ada rasa ingin dipuji.
- Mungkin masih ada keinginan agar semua orang mengikuti kehendak kita.
- Mungkin masih ada ketergantungan kepada makhluk yang belum selesai.
Orang lain hanyalah pemicu yang menampakkan penyakit tersebut ke permukaan. Sama seperti panas yang memperlihatkan adanya demam. Panas bukan penyebab penyakit, tetapi hanya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres di dalam tubuh. Begitu pula rasa ngambek dan kesal. Itu bukan sekadar masalah hubungan dengan manusia, tetapi sering kali merupakan indikator bahwa hati masih perlu dibersihkan dan didekatkan kepada Allah.
Orang yang hatinya dipenuhi Allah tidak berarti tidak pernah diuji. Ia tetap bisa disakiti, dihina, atau diperlakukan tidak adil. Namun hatinya tidak lama dikuasai oleh peristiwa tersebut. Ia segera kembali kepada Allah, sehingga ketenangannya tidak bergantung kepada makhluk. Sebaliknya, orang yang hatinya dipenuhi makhluk akan mudah goyah. Sedikit perkataan orang lain bisa membuatnya marah. Sedikit perlakuan yang tidak sesuai harapan bisa membuatnya kecewa. Sedikit kritik bisa membuatnya sakit hati.
Maka solusi utama dari ngambek dan kesal bukanlah mengubah orang lain, melainkan memperbaiki isi hati. Bukan sibuk mengoreksi manusia, tetapi sibuk mendekat kepada Allah. Karena selama hati masih dipenuhi makhluk, maka kegelisahan akan terus datang dalam berbagai bentuk. Namun ketika ada Allah di hati, maka lahirlah rasa nyaman, adem, lapang, tenang, dan damai, meskipun keadaan di sekitar tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Maka setiap kali muncul rasa ngambek, jangan bertanya: “Mengapa orang lain berbuat seperti itu kepada saya?” Tapi bertanyalah: “Mengapa hati saya masih begitu mudah dipengaruhi oleh makhluk?”
Pertanyaan kedua akan membawa seseorang kepada perbaikan diri, sedangkan pertanyaan pertama seringkali hanya membawa kepada menyalahkan orang lain. Dan jalan menuju ketenangan bukanlah memperbaiki semua manusia, melainkan menghadirkan Allah di dalam hati.