Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kita menyaksikan berbagai bentuk demonstrasi atau aksi penyampaian pendapat di muka umum. Sebagai seorang muslim, penting untuk memahami persoalan ini berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah agar tidak terjebak pada sikap yang berlebihan.
Ridha terhadap Ketentuan Allah
Allah SWT mengajarkan kepada hamba-Nya untuk menerima setiap ketentuan-Nya dengan penuh keimanan. Seorang mukmin meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah dan mengandung hikmah, meskipun terkadang belum mampu dipahami secara langsung.
Allah berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim tidak mudah bereaksi dengan kemarahan, kebencian, atau tindakan yang melampaui batas ketika menghadapi suatu keadaan yang tidak sesuai harapan.
Kewajiban Taat kepada Pemimpin
Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga ketertiban dan persatuan dengan menaati pemimpin selama tidak diperintahkan berbuat maksiat.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu." (QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini menjadi dasar bahwa seorang muslim harus menghormati dan menaati pemimpin dalam perkara yang baik demi menjaga stabilitas masyarakat.
Menyampaikan Kritik dengan Adab
Meskipun demikian, ketaatan kepada pemimpin bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Islam mengajarkan agar kritik dan nasihat disampaikan dengan cara yang baik, santun, berdasarkan ilmu, data, dan fakta yang benar.
Allah SWT berfirman:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." (QS. An-Nahl: 125)
Karena itu, apabila ditemukan kebijakan yang dianggap kurang tepat, hendaknya disampaikan melalui cara-cara yang beradab, tidak mengandung fitnah, caci maki, ujaran kebencian, maupun tindakan anarkis yang merusak fasilitas umum.
Bahaya Emosi dan Informasi yang Belum Terverifikasi
Di era media sosial saat ini, banyak informasi beredar dengan sangat cepat. Tidak sedikit orang yang langsung mempercayai berita tanpa melakukan tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa seorang muslim wajib memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil sikap atau menyebarkannya kepada orang lain.
Fenomena ikut-ikutan dalam berbagai gerakan tanpa memahami persoalan secara mendalam dapat menimbulkan kesalahpahaman dan perpecahan. Rendahnya budaya literasi menyebabkan sebagian masyarakat lebih mudah terpengaruh oleh potongan informasi daripada melakukan kajian secara utuh dan objektif.
Penutup
Seorang muslim hendaknya menyeimbangkan antara ridha terhadap ketentuan Allah, taat kepada pemimpin, dan tetap menjalankan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar dengan cara yang benar. Kritik yang disampaikan dengan ilmu, data, adab, dan niat memperbaiki akan lebih dekat kepada nilai-nilai Islam dibandingkan tindakan yang didasari emosi, provokasi, fitnah, atau perusakan.
Mari membangun budaya tabayyun, memperkuat literasi, memperbanyak kajian ilmu, serta mengedepankan akhlak mulia dalam menyikapi setiap persoalan bangsa dan negara. Dengan demikian, persatuan tetap terjaga dan perbaikan dapat dilakukan secara konstruktif sesuai tuntunan agama.