Banyak orang mengira bahwa hukum-hukum fisika adalah sesuatu yang diciptakan manusia. Seolah gravitasi baru hadir setelah Newton mengamatinya, atau ruang dan waktu baru melengkung setelah Einstein merumuskannya.
Padahal, para ilmuwan tidak menciptakan hukum alam. Mereka mengamati, menemukan pola, lalu mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa manusia melalui angka, persamaan, dan rumus.
Jauh sebelum manusia mengenal matematika, menuliskan persamaan, atau memenuhi papan tulis dengan simbol-simbol, Allah telah menetapkan keteraturan pada alam semesta. Planet bergerak pada orbitnya, cahaya melintasi ruang, materi tersusun dari partikel-partikel yang begitu kecil, dan berbagai fenomena alam berlangsung mengikuti pola yang dapat dipelajari.
Firman Allah:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa alam bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk direnungkan. Langit, bumi, cahaya, gerak, energi, waktu, dan segala keteraturan di dalamnya adalah tanda-tanda yang dapat mengantarkan manusia kepada kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta.
Apa yang kita sebut sebagai “rumus fisika” sejatinya hanyalah usaha manusia untuk memahami sebagian kecil dari keteraturan tersebut. Bahkan dalam mempelajari fisika, kita sering menggunakan berbagai pendekatan. Gesekan diabaikan, benda dianggap sebagai titik, ruang dianggap hampa, atau suatu sistem dibuat ideal agar lebih mudah dihitung.
Bukan karena alam sesederhana itu.
Justru karena kenyataan begitu kompleks sehingga kemampuan manusia membutuhkan penyederhanaan untuk memahaminya sedikit demi sedikit.
Di situlah saya merasa fisika mengajarkan kerendahan hati.
Semakin banyak yang dipelajari, semakin terasa betapa sedikit yang benar-benar kita ketahui. Setiap jawaban sering kali melahirkan pertanyaan baru. Setiap hukum yang berhasil dipahami justru membuka lapisan lain dari alam yang masih menunggu untuk dipelajari.
Firman Allah:
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ
“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih.”
(QS. Al-Mulk: 3)
Mempelajari fisika akhirnya bukan hanya tentang mencari nilai percepatan, menghitung gaya, memahami gelombang, atau menghafal persamaan.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Ketika melihat planet tetap bergerak dalam orbitnya, ketika mempelajari betapa konsistennya cahaya berperilaku, ketika mengetahui bahwa benda yang terlihat diam pun tersusun dari partikel-partikel yang terus berinteraksi, muncul sebuah kesadaran:
alam semesta ini memiliki keteraturan yang luar biasa.
Dan bagi seorang beriman, keteraturan itu bukan sekadar fenomena untuk dihitung. Ia adalah ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta.
Ilmuwan mungkin mampu menuliskan persamaan tentang bagaimana sebuah benda jatuh, tetapi persamaan itu tidak menciptakan gravitasi.
Manusia dapat menghitung gerak planet, tetapi manusia tidak menempatkan planet-planet itu pada lintasannya.
Kita dapat mempelajari cahaya, energi, ruang, waktu, dan materi, tetapi kita bukanlah pencipta dari semua keteraturan tersebut.
Kita hanyalah pembaca.
Pembaca sebuah “kitab besar” bernama alam semesta.
Karena itu, semakin dalam saya mempelajari fisika, seharusnya semakin kecil rasa sombong dalam diri. Sebab ilmu yang kita miliki hanyalah setetes kecil dari luasnya pengetahuan Allah.
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra’: 85)
Mungkin kita tidak akan pernah memahami seluruh rahasia semesta. Namun melalui fisika, kita diberi kesempatan untuk membaca sebagian kecil dari tanda-tanda kebesaran-Nya.
Lalu pada suatu titik, rumus tidak lagi hanya menjadi kumpulan angka dan simbol.
Ia berubah menjadi kekaguman.
Dari gravitasi kita belajar tentang keteraturan.
Dari cahaya kita belajar tentang keindahan.
Dari atom kita belajar tentang detail.
Dari luasnya semesta kita belajar tentang kerendahan hati.
Dan dari semuanya, hati perlahan sampai pada satu kesimpulan:
“Ya Allah, ternyata seindah, sedetail, dan seagung ini Engkau menata ciptaan-Mu.”
Maka bagiku, belajar fisika bukan hanya perjalanan memahami alam.
Ia juga perjalanan untuk semakin mengenal Sang Pencipta.